Guru di Negeri Bohong....
Keteladanan adalah metode efektif dalam pendidikan karakter. Keteladanan menjadikan dinamika pendidikan membumi, konkret, dan kontekstual.
Bagaimanakah jadinya pendidikan jika harus dijalankan di negeri yang penuh kebohongan?
Pendidikan seharusnya membangun rasa bangga dan cinta peserta didik
kepada negerinya. Ini hanya bisa berlangsung bila kualitas para
pengelola negeri unggul dan berkarakter. Mereka layak diteladani karena
menjadi pribadi yang merdeka dari kepentingan pribadi dan kelompok.
Keadilan dan kesejahteraan hidup segenap rakyat adalah satu-satunya yang
diperjuangkan.
Sayang, di negeri ini keteladanan semacam itu hampir raib. Krisis
keteladanan menyergap seluruh sisi kehidupan. Keutamaan moral dilibas
alasan ”sudah sesuai aturan”. Anak-anak kita hidup dalam ruang nihil
kepekaan moral. Realitas akal-akalan dengan permainan aturan yang culas
demi membenarkan diri adalah atmosfer yang mereka hirup. Rasa malu
membebal. Kata Indra Tranggono, ”Tahu hukumannya ringan, kenapa kita tak
jadi koruptor, ya (Kompas, 12/9)?”
Di negeri ini terhampar ragam realitas tumpul moral yang sulit
diterangkan kepada para murid. Alasan Menteri Hukum dan Hak Asasi
Manusia saat memberikan remisi kepada para koruptor memusingkan guru
yang harus menerangkan kepada para murid. Memang semua telah mengikuti
aturan yang berlaku. Namun, terkait rasa keadilan dan kewajaran, para
guru sulit menjelaskan dan meyakinkan para murid bahwa hukum adalah
keniscayaan terjaminnya keadilan serta kemakmuran bagi segenap rakyat.
Pada realitas semacam itu, para murid justru belajar tentang
perpaduan hukum dengan kuasa uang, yang justru menjadi cara efektif
untuk menyelamatkan diri. Bagaimanakah guru harus menjelaskan secara
nalar bahwa faktanya ada uang negara yang hilang pada kasus Century,
tetapi tidak ada yang berkewajiban untuk bertanggung jawab serta
mengembalikan uang itu secara utuh kepada rakyat?
Bagaimanakah guru harus menjelaskan dengan nalar sederhana murid
bahwa faktanya ada pemalsuan surat yang dikeluarkan Mahkamah Konstitusi,
tetapi pelakunya tidak ditemukan? Bagaimanakah guru harus menjelaskan
kepada para murid ketika politisi mengatakan bahwa Nazaruddin kehilangan
berat badan belasan kilogram tetapi penampilan fisiknya tak berbeda
sebelum dan sesudah pelariannya?
Raibnya keteladanan tokoh publik, maraknya kebohongan, dan peristiwa
ketidakadilan tak bertuan telah menenggelamkan anak-anak kita pada
kubangan pembodohan dan pembebalan moral. Realitas keseharian yang
mestinya menjadi objek pembelajaran akhirnya hanya menjadi realitas
penuh dusta. Pembelajaran pun hanya dalam buaian mimpi, penuh
kepura-puraan dan kepalsuan.
Gaung pengajaran tentang prinsip keadilan, nilai-nilai kehidupan,
ajaran moral, hingga ragam aturan keagamaan segera senyap ketika tak
terpetakan dalam hidup keseharian. Guru sering harus puas dengan jerih
payahnya yang hanya menyentuh dimensi rasional. Realitas negeri yang
penuh kebohongan telah menghancurkan prinsip pendidikan tentang
rasionalitas yang seharusnya dapat dipertanggungjawabkan. Dampak
tragisnya adalah lahirnya generasi pandai tetapi bebal moral.
Secercah harapan..
Negeri kita sedang dalam keadaan tidak baik untuk membangun habitus
berkarakter. Maraknya tingkah akal-akalan dengan aturan (hukum) dan
kepura-puraan dalam jiwa tebar pesona—mulai rakyat biasa hingga
pejabat—hanya melahirkan pribadi yang culas, semu, dan misterius. Karena
itu, pendidik sebaiknya tak gegabah menjadikan pejabat publik yang
hari-hari ini jejaknya dikenal baik sebagai model anak bangsa yang
unggul kepada para murid. Hanya setelah ajal menjemput, mereka bisa
dipertimbangkan untuk menjadi suatu model.
Namun, bangsa ini harus terus melahirkan pribadi yang unggul. Api
yang membakar daya hidup untuk menjadi manusia berkarakter unggul dan
nasionalis tak boleh padam oleh rusaknya kehidupan pada zaman edan ini.
Masih ada celah sempit yang bisa ditekuni. Pendidik perlu mengajak
para murid menjadi tuan atas diri dan hidupnya sendiri. Para murid
dimotivasi untuk pertama-tama meraih kemenangan pribadi (Stephen Covey,
1993).
Konkretnya, semua cara bekerja, pikiran, dan perasaan mesti
diorientasikan demi martabat dan pemuliaan diri serta kehidupan yang
mengakar pada nilai-nilai universal, bukan belajar dalam keterpesonaan
pada tampilan para tokoh.
Apa boleh buat, tokoh-tokoh di negeri tuna-adab moral ini tak peduli
kalau tingkah mereka menghancurkan karakter bangsa. Rasanya akan tetap
bijak bila pendidik tak membohongi para murid dengan mengajarkan
kepalsuan. Gairah mencintai negeri pun tak diredupkan karena tak hanyut
dalam kekecewaan kepada tokoh publik yang sering berubah secara tak
terduga.
SIDHARTA SUSILA Pendidik di Yayasan Pangudi Luhur, Muntilan, Magelang
0 komentar:
Poskan Komentar